Hari Raya Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri

7 menit
4-6 Tahun
Audio tersedia
Audio Cerita: Hari Raya Idul Fitri
0:000:00

Amir adalah anak laki-laki berusia lima tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di pinggir kota. Ia memiliki mata bulat besar dan rambut keriting hitam yang selalu berantakan. Amir sangat suka bertanya tentang banyak hal, terutama tentang apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari, Amir melihat ibunya sedang sibuk membersihkan rumah. Ayahnya juga tampak sibuk memperbaiki pintu dan jendela yang rusak. Bahkan kakak perempuannya, Siti, sedang menata baju-baju baru di lemari.

"Ibu, mengapa semua orang sibuk sekali?"
tanya Amir dengan penasaran.

Ibu tersenyum lembut.

"Karena sebentar lagi kita akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, sayang."

"Apa itu Idul Fitri, Bu?"
tanya Amir lagi sambil memiringkan kepalanya.

Ibu menghentikan pekerjaannya sejenak dan mengajak Amir duduk di kursi kecil di teras rumah.

"Idul Fitri adalah hari raya yang sangat istimewa bagi umat Islam. Hari raya ini datang setelah kita berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan."

"Seperti Ayah dan Ibu yang tidak makan dan minum sejak pagi sampai matahari terbenam?"
tanya Amir.

"Betul sekali, pintar!"
kata Ibu sambil mengusap kepala Amir.
"Nah, setelah berpuasa selama satu bulan, Allah memberikan kita hadiah berupa hari raya yang indah. Ini seperti ketika Amir menyelesaikan tugas dari Bu Guru dengan baik, lalu mendapat bintang sebagai hadiah."

Hari Raya Idul Fitri

Amir mengangguk-angguk. Ia bisa memahami perumpamaan itu.

"Tapi kenapa kita harus berpuasa, Bu?"
tanya Amir lagi.

"Berpuasa mengajarkan kita untuk merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus, sehingga kita bisa lebih peduli pada orang-orang yang kurang beruntung,"
jelas Ibu dengan sabar.
"Juga untuk melatih kesabaran dan menahan diri dari hal-hal yang tidak baik."

Saat itu, Ayah datang membawa sekotak kue kering dan bergabung dengan mereka.

"Idul Fitri juga mengingatkan kita pada kisah Nabi Muhammad SAW,"
tambah Ayah.
"Beliau adalah utusan Allah yang mengajarkan banyak hal baik kepada umat manusia."

"Nabi Muhammad menerima kitab suci Al-Quran dari Allah selama bulan Ramadhan. Karena itu, bulan Ramadhan sangat istimewa,"
lanjut Ibu.

"Dan di hari Idul Fitri, kita berterima kasih kepada Allah karena telah memberi kita kekuatan untuk berpuasa. Kita juga saling memaafkan dan berkunjung ke rumah saudara dan teman,"
kata Ayah.

Mata Amir berbinar-binar.

"Berarti akan ada banyak kue dan makanan enak?"

Hari Raya Idul Fitri

Ayah dan Ibu tertawa.

"Tentu saja! Ada ketupat, opor ayam, rendang, dan banyak kue lezat,"
jawab Ibu.

"Dan jangan lupa, ada juga angpau!"
tambah Siti yang baru saja bergabung dengan mereka.

"Apa itu angpau?"
tanya Amir.

"Itu adalah amplop berisi uang yang biasanya diberikan oleh orang dewasa kepada anak-anak,"
jelas Siti.
"Tapi ingat, Idul Fitri bukan hanya tentang makanan enak dan angpau. Yang paling penting adalah berkumpul bersama keluarga dan saling memaafkan."

Keesokan harinya, Amir dan keluarganya pergi ke masjid untuk sholat Idul Fitri. Amir mengenakan baju koko baru berwarna biru muda dan peci hitam kecil. Siti memakai baju kurung pink dengan kerudung senada. Ayah dan Ibu juga mengenakan pakaian terbaik mereka.

Di masjid, Amir melihat banyak sekali orang berkumpul. Semua tampak bahagia dan saling bersalaman. Setelah sholat, mereka mendengarkan ceramah dari Pak Ustadz tentang makna Idul Fitri.

"Idul Fitri berarti kembali ke fitrah atau keadaan suci dan bersih,"
kata Pak Ustadz.
"Seperti bayi yang baru lahir, kita kembali bersih dari dosa setelah berpuasa dengan sungguh-sungguh."

Pulang dari masjid, rumah Amir mulai ramai dikunjungi tetangga dan saudara. Mereka semua bersalaman dan mengucapkan

"Mohon maaf lahir dan batin."

"Kenapa semua orang minta maaf, Ayah?"
tanya Amir.

"Karena di hari yang fitrah ini, kita ingin memulai lembar baru dengan hati yang bersih,"
jawab Ayah.
"Mungkin selama ini kita pernah melakukan kesalahan tanpa sadar, jadi kita saling memaafkan."

Amir mengangguk paham. Ia pun bersalaman dengan kedua orangtuanya, kakaknya, dan semua tamu yang datang sambil mengucapkan

"Mohon maaf lahir dan batin"
dengan suara kecilnya yang lucu.

Sepanjang hari, Amir menikmati hidangan lezat, mendapatkan banyak angpau, dan bermain bersama sepupu-sepupunya. Malam harinya, ketika ia sudah bersiap tidur, Amir berbisik pada ibunya,

"Bu, Idul Fitri adalah hari terbaik! Aku tidak sabar menunggu Idul Fitri tahun depan."

Ibu tersenyum dan mencium kening Amir.

"Ingatlah, sayang. Semangat Idul Fitri—berbagi kebaikan, memaafkan, dan bersyukur—seharusnya kita bawa setiap hari, bukan hanya saat Idul Fitri."

Amir memejamkan matanya dengan senyum di wajahnya, membayangkan bagaimana rasanya membawa kebahagiaan Idul Fitri sepanjang tahun.


Pesan Moral

Cerita ini mengajarkan anak-anak tentang makna Idul Fitri yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang baju baru, makanan lezat, atau angpau, tetapi tentang nilai-nilai penting seperti bersyukur kepada Allah, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Anak-anak juga belajar bahwa semangat Idul Fitri seharusnya dibawa dalam kehidupan sehari-hari sepanjang tahun, bukan hanya dirayakan pada hari tertentu. Dengan memahami makna Idul Fitri sejak dini, anak-anak dapat menghargai nilai spiritual dari perayaan ini.