Hari Bumi

Hari Bumi

5 menit
4-6 Tahun
Audio tersedia
Audio Cerita: Hari Bumi
0:000:00

Di sebuah desa kecil yang indah, tinggahlah seorang anak bernama Dini. Dini sangat suka bermain di taman dan menikmati keindahan alam. Setiap pagi, Dini selalu menyapa bunga-bunga yang mekar dan kupu-kupu yang terbang dengan riang.

Suatu hari, Bu Guru di sekolah memberitahu bahwa besok adalah Hari Bumi.
"Anak-anak, besok kita akan merayakan Hari Bumi. Hari Bumi adalah hari di mana kita semua berterima kasih kepada Bumi yang telah memberikan kita tempat tinggal yang nyaman," jelas Bu Guru dengan senyum hangat.

"Bagaimana cara kita berterima kasih kepada Bumi, Bu?" tanya Dini penasaran.

"Kita bisa melakukan banyak hal baik untuk Bumi, seperti menanam pohon, membersihkan sampah, dan menghemat air," jawab Bu Guru.


Hari Bumi

Dini sangat bersemangat mendengar penjelasan Bu Guru. Sepulang sekolah, dia bercerita kepada Ayah dan Ibunya tentang Hari Bumi.
"Ayah, Ibu, besok adalah Hari Bumi! Aku ingin melakukan sesuatu yang istimewa untuk Bumi kita," kata Dini dengan mata berbinar-binar.

Ayah dan Ibu tersenyum melihat semangat Dini.
"Bagaimana kalau kita menanam pohon di halaman belakang rumah?" usul Ayah.
"Dan kita juga bisa membersihkan sampah di sekitar rumah," tambah Ibu.

"Iya! Aku setuju! Aku juga ingin mengajak teman-temanku!" seru Dini kegirangan.


Keesokan harinya, Dini bangun pagi-pagi sekali. Dia sudah tidak sabar untuk merayakan Hari Bumi. Di sekolah, Bu Guru mengajak seluruh murid untuk menanam bibit pohon di taman sekolah.

"Lihat, anak-anak, ketika kalian menanam satu pohon, kalian telah membantu Bumi bernafas lebih baik," kata Bu Guru sambil membantu murid-muridnya menanam.

Dini menanam bibit pohon mangga dengan hati-hati.
"Tumbuh besar ya, pohon kecil. Nanti kamu akan memberikan buah mangga yang manis dan udara yang segar untuk kita semua," bisik Dini kepada bibit pohonnya.


Hari Bumi

Setelah kegiatan di sekolah selesai, Dini pulang ke rumah dan mengajak teman-temannya untuk membersihkan sampah di taman dekat rumah mereka. Mereka mengumpulkan sampah plastik, kertas, dan daun-daun kering.

"Sampah plastik harus dibuang di tempat sampah khusus plastik," ingat Dini kepada teman-temannya.
"Dan sampah daun bisa dijadikan pupuk untuk tanaman," tambah Rini, teman Dini.


Sore hari, Dini, Ayah, dan Ibu menanam pohon jambu di halaman belakang rumah seperti yang mereka rencanakan. Dini menyiram pohon itu dengan penuh kasih sayang.

"Ayah, Ibu, apakah kita harus merayakan Hari Bumi hanya setahun sekali?" tanya Dini.

Ayah mengelus kepala Dini dengan lembut.
"Tidak, sayang. Kita harus merawat Bumi setiap hari. Hari Bumi hanya mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga Bumi kita."

"Benar, Dini. Bumi adalah rumah kita. Jika kita tidak menjaganya, siapa lagi yang akan menjaganya?" tambah Ibu sambil tersenyum.

Dini mengangguk mengerti.
"Mulai sekarang, aku akan selalu menjaga Bumi setiap hari. Aku akan menghemat air, membuang sampah pada tempatnya, dan merawat tanaman dengan baik!"


Malam hari, sebelum tidur, Dini memandang bintang-bintang dari jendela kamarnya. Dia merasa sangat bahagia karena telah melakukan hal-hal baik untuk Bumi hari ini.

"Terima kasih, Bumi, karena telah menjadi rumah yang indah untuk kami semua. Aku berjanji akan selalu menjagamu," bisik Dini sebelum memejamkan mata.


Pesan Moral

Cerita ini mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga lingkungan dan Bumi kita. Meskipun Hari Bumi hanya dirayakan setahun sekali, kita harus merawat Bumi setiap hari dengan cara-cara sederhana seperti menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, dan menghemat sumber daya alam. Anak-anak juga belajar bahwa Bumi adalah rumah kita bersama, dan menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjaganya tetap indah dan sehat untuk generasi mendatang.