Hari Lahir Pancasila

Hari Lahir Pancasila

6 menit
4-6 Tahun
Audio tersedia
Audio Cerita: Hari Lahir Pancasila
0:000:00

Hari itu, langit cerah tanpa awan di TK Nusantara. Semua anak berkumpul di halaman sekolah yang dihias dengan bendera merah putih dan simbol-simbol burung Garuda. Bu Ratna, guru kelas Matahari, tersenyum melihat anak-anak yang duduk rapi di tikar berwarna-warni.

"Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang hari yang sangat penting bagi negara kita. Hari ini adalah Hari Lahir Pancasila," kata Bu Ratna sambil menunjukkan sebuah gambar burung Garuda dengan perisai di dadanya.

Nina, gadis kecil dengan pita merah di rambutnya, mengangkat tangan.
"Bu Guru, apa itu Pancasila?"

"Pertanyaan bagus, Nina," jawab Bu Ratna.
"Pancasila adalah dasar negara kita, Indonesia. Seperti rumah yang membutuhkan pondasi yang kuat, negara kita juga membutuhkan dasar yang kuat. Pancasila adalah pondasi negara kita."

Bu Ratna kemudian mengambil kertas berbentuk tangan besar. Pada setiap jari, ada gambar simbol Pancasila.

"Lihat, anak-anak. Tangan kita memiliki lima jari. Sama seperti Pancasila yang memiliki lima sila atau lima prinsip penting. Mari kita belajar dengan jari-jari kita."

Hari Lahir Pancasila

Anak-anak mengangguk antusias dan mengikuti Bu Ratna mengangkat tangan mereka.

  • "Ibu jempol," kata Bu Ratna sambil mengangkat jempol, "mewakili sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini berarti kita percaya kepada Tuhan dan menghormati semua agama."

Anak-anak mengangkat jempol mereka dan mengulang kata-kata Bu Ratna.

  • "Jari telunjuk," lanjut Bu Ratna, "mewakili sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ini berarti kita harus bersikap adil dan baik kepada semua orang."

"Seperti berbagi mainan dengan teman, ya Bu?" tanya Rino, anak laki-laki dengan kacamata kecil.
"Tepat sekali, Rino!" Bu Ratna tersenyum.

  • "Jari tengah," yang paling tinggi, "mewakili sila ketiga: Persatuan Indonesia. Ini berarti meskipun kita berbeda-beda, kita tetap bersatu sebagai satu keluarga Indonesia."

Anak-anak melihat teman-teman di sekitar mereka yang memiliki warna kulit, bentuk mata, dan rambut yang berbeda-beda.

  • "Jari manis," Bu Ratna melanjutkan, "mewakili sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Ini nama yang panjang, ya? Artinya kita harus berdiskusi dan bermusyawarah untuk mengambil keputusan."

"Seperti saat kita memilih permainan bersama?" tanya Sinta.
"Ya, Sinta pintar!" Bu Ratna mengangguk.

  • "Dan terakhir, jari kelingking, meskipun kecil tapi penting, mewakili sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ini berarti semua orang Indonesia harus diperlakukan adil dan mendapat kesempatan yang sama."

Setelah menjelaskan, Bu Ratna membagikan kertas gambar dan krayon.
"Sekarang, coba kalian gambar tangan kalian di kertas ini. Lalu gambar simbol Pancasila pada setiap jari kalian."

Hari Lahir Pancasila

Anak-anak mulai menggambar dengan semangat. Nina menggambar bintang di jempol, rantai di jari telunjuk, pohon beringin di jari tengah, kepala banteng di jari manis, dan padi serta kapas di jari kelingking.

"Bu Guru, kenapa Pancasila lahir?" tanya Danu sambil mewarnai gambarnya.

Bu Ratna duduk di tengah anak-anak.
"Dahulu, pada tanggal 1 Juni 1945, saat Indonesia akan merdeka, para pemimpin kita berkumpul untuk menentukan dasar negara. Bung Karno, presiden pertama kita, memberikan pidato tentang lima prinsip yang kemudian menjadi Pancasila."

"Waktu itu, Indonesia baru akan merdeka," lanjut Bu Ratna.
"Para pemimpin tahu bahwa negara yang baru harus memiliki aturan dan nilai-nilai yang akan menyatukan semua orang Indonesia."

Setelah menyelesaikan gambar, anak-anak menunjukkan hasil karya mereka dengan bangga. Bu Ratna kemudian mengajak mereka bermain permainan "Lima Jari Pancasila" di mana mereka harus mengangkat jari yang sesuai ketika Bu Ratna menyebutkan salah satu sila.

Di akhir kegiatan, Bu Ratna membagikan pin kecil berbentuk Garuda Pancasila.
"Ingatlah, anak-anak, Pancasila adalah panduan kita untuk hidup bersama dengan baik di Indonesia. Seperti lima jari di tangan kita yang bekerja sama, lima sila Pancasila membantu kita menjadi bangsa yang kuat dan bersatu."

Saat pulang sekolah, Nina menunjukkan pin Garuda Pancasila dan gambar tangannya kepada ibunya.
"Ibu, hari ini aku belajar tentang Pancasila. Ini adalah pondasi rumah Indonesia!"

Ibu Nina tersenyum dan memeluknya.
"Benar sekali, sayang. Dan kamu, juga semua anak Indonesia, adalah masa depan yang akan menjaga pondasi itu tetap kuat."


Pesan Moral

  1. Pengenalan Pancasila – Cerita ini memperkenalkan konsep Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dengan cara sederhana dan mudah diingat melalui analogi lima jari tangan.
  2. Nilai Persatuan – Mengajarkan anak-anak tentang pentingnya persatuan meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.
  3. Musyawarah dan Diskusi – Menanamkan pentingnya berdiskusi dan bermusyawarah dalam mengambil keputusan bersama.
  4. Keadilan dan Kesetaraan – Memperkenalkan konsep keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang.
  5. Rasa Bangga sebagai Bangsa Indonesia – Menumbuhkan rasa bangga dan cinta tanah air sejak dini.
  6. Kerja Sama – Seperti lima jari yang bekerja sama, nilai-nilai Pancasila mendorong kerja sama dan gotong royong.