Aji Saka

Aji Saka

11 menit
7+ Tahun
Audio tersedia
Audio Cerita: Aji Saka
0:000:00

Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh seorang raja yang sangat kejam bernama Prabu Dewata Cengkar. Raja ini memiliki kebiasaan yang mengerikan: memakan daging manusia. Setiap hari, prajurit kerajaan harus mencari korban untuk dijadikan santapan sang raja. Penduduk kerajaan hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan.

Di tanah yang jauh, hiduplah seorang pemuda tampan dan bijaksana bernama Aji Saka. Ia memiliki kesaktian dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Suatu hari, Aji Saka mendengar kabar tentang penderitaan rakyat Medang Kamulan. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan untuk membantu mereka.

"Aku harus menyelamatkan rakyat Medang Kamulan dari raja yang kejam itu," kata Aji Saka kepada dirinya sendiri.

Sebelum berangkat, Aji Saka memanggil dua pengikut setianya yang bernama Dora dan Sembada.

"Dora, aku akan pergi ke Medang Kamulan. Engkau ikutlah bersamaku," perintah Aji Saka.
"Sembada, engkau tinggal di sini untuk menjaga keris pusakaku. Jangan berikan kepada siapapun kecuali aku sendiri yang datang mengambilnya," pesan Aji Saka dengan tegas.
"Baik, Tuan. Hamba akan menjaga keris pusaka ini dengan nyawa hamba," jawab Sembada sambil membungkuk hormat.

Aji Saka dan Dora pun berangkat menuju Medang Kamulan. Sesampainya di sana, Aji Saka menyamar sebagai rakyat biasa. Ia melihat betapa menderitanya penduduk kerajaan. Wajah-wajah ketakutan dan rumah-rumah kosong menjadi pemandangan yang umum.

Suatu hari, para prajurit kerajaan mengumumkan bahwa mereka mencari orang untuk dijadikan santapan raja. Dengan berani, Aji Saka mengajukan diri.

"Saya bersedia menjadi santapan raja," kata Aji Saka. "Tetapi dengan satu syarat. Saya minta sebidang tanah seluas ikat kepala yang saya kenakan ini."

Para prajurit tertawa mendengar permintaan yang mereka anggap kecil itu. Mereka membawa Aji Saka menghadap Raja Dewata Cengkar.

A wise young Indonesian hero, Aji Saka, stands before a palace. He holds his headcloth (ikat kepala) which magically stretches out incredibly long like a giant, colorful ribbon, flowing across the green land under a bright sky. In the distant palace background, a fierce king (Prabu Dewata Cengkar) looks astonished. Children's fairy tale illustration style, magical swirling effect on the headcloth, vibrant colors, simple Indonesian palace architecture.

"Jadi engkau bersedia menjadi santapanku dengan syarat mendapatkan tanah seluas ikat kepalamu?" tanya sang raja sambil tertawa.
"Benar, Yang Mulia," jawab Aji Saka dengan tenang.
"Baiklah, permintaanmu kukabulkan," kata Raja Dewata Cengkar.

Aji Saka kemudian melepas ikat kepalanya dan mulai membentangkannya. Ajaib! Ikat kepala itu terus memanjang tanpa henti. Semakin ditarik, semakin panjang ikat kepala tersebut. Ikat kepala itu memanjang hingga meliputi seluruh wilayah kerajaan Medang Kamulan.

"Kini seluruh kerajaan ini adalah milikku sesuai perjanjian kita," kata Aji Saka.

Raja Dewata Cengkar sangat marah. Ia menyerang Aji Saka dengan kalap. Terjadilah pertarungan sengit antara keduanya. Dengan kesaktiannya, Aji Saka berhasil mendorong Raja Dewata Cengkar hingga terjatuh ke Laut Selatan. Konon, raja kejam itu berubah menjadi buaya putih.

Setelah mengalahkan Raja Dewata Cengkar, rakyat Medang Kamulan meminta Aji Saka menjadi raja mereka. Aji Saka menyetujui dan memerintah dengan adil dan bijaksana. Kerajaan Medang Kamulan menjadi makmur dan tentram.

Suatu hari, Aji Saka teringat akan keris pusakanya yang dijaga oleh Sembada. Ia mengutus Dora untuk mengambil keris tersebut.

"Dora, pergilah ke tempat Sembada dan ambilkan keris pusakaku," perintah Aji Saka.

Dora pun berangkat. Sesampainya di tempat Sembada, ia menyampaikan pesan rajanya.

The wise hero Aji Saka stands looking down with deep sadness and regret at his two loyal followers, Dora and Sembada, lying peacefully on the grassy ground.

"Sembada, aku diutus oleh Tuan Aji Saka untuk mengambil keris pusaka," kata Dora.

Sembada menggelengkan kepala.

"Maaf, Dora. Aku telah berjanji kepada Tuan Aji Saka untuk tidak memberikan keris ini kepada siapapun kecuali beliau sendiri yang datang mengambilnya."

Dora bersikeras.

"Ini perintah langsung dari Tuan Aji Saka!"

"Aku tetap tidak bisa memberikannya," Sembada tetap pada pendiriannya.

Karena sama-sama keras kepala dan setia pada perintah tuannya, Dora dan Sembada akhirnya bertarung memperebutkan keris pusaka. Pertarungan berlangsung sengit dan lama. Keduanya sama-sama kuat dan terampil. Pada akhirnya, kedua abdi setia itu tewas dalam pertarungan tersebut.

Karena lama menunggu kembalinya Dora, Aji Saka mulai curiga. Ia memutuskan untuk pergi sendiri menyusul Dora. Betapa terkejutnya Aji Saka ketika menemukan kedua abdi setianya telah tewas.

The wise Aji Saka sits calmly under a tree or inside a simple room, looking thoughtful. Glowing, stylized Javanese script characters (Aksara Jawa - maybe showing 'Ha Na Ca Ra Ka') magically appear and float gently around him, symbolizing their creation in memory of his followers.

Aji Saka sangat sedih melihat kejadian tersebut. Ia sadar bahwa kematian kedua abdinya disebabkan oleh kesetiaan mereka pada perintahnya. Untuk mengenang kesetiaan Dora dan Sembada, Aji Saka menciptakan aksara Jawa yang terdiri dari 20 huruf dasar.

Huruf-huruf itu disusun dalam sebuah kalimat yang berbunyi:

"Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Pa Dha Ja Ya Nya, Ma Ga Ba Tha Nga"

yang bermakna:

"Ada utusan (duta), sama-sama kuat, sama-sama sakti, sama-sama mati."

Demikianlah kisah Aji Saka yang mengalahkan raja kejam dan menciptakan aksara Jawa. Kisah ini menjadi salah satu cerita rakyat paling terkenal di Pulau Jawa hingga saat ini.


Pesan Moral

Cerita Aji Saka mengajarkan beberapa nilai moral yang penting:

  1. Keberanian dalam membela kebenaran.
    Aji Saka berani menentang kekejaman Raja Dewata Cengkar demi menyelamatkan rakyat yang menderita.
  1. Kesetiaan terhadap janji dan tugas.
    Dora dan Sembada menunjukkan kesetiaan luar biasa dalam menjalankan tugas mereka, bahkan hingga mengorbankan nyawa.
  1. Kepemimpinan yang baik.
    Aji Saka mencontohkan bagaimana pemimpin yang baik harus melindungi rakyatnya dan memerintah dengan adil dan bijaksana.
  1. Dari kejadian buruk bisa lahir hal-hal baik.
    Kematian tragis Dora dan Sembada melahirkan aksara Jawa yang menjadi warisan budaya berharga.
  1. Pentingnya komunikasi yang jelas.
    Tragedi Dora dan Sembada mungkin bisa dihindari jika perintah yang diberikan lebih jelas dan tidak menimbulkan konflik loyalitas.