Malin Kundang

Malin Kundang

5 menit
7+ Tahun
Audio tersedia
Audio Cerita: Malin Kundang
0:000:00

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa nelayan kecil di pesisir Sumatera Barat, hiduplah seorang janda miskin dengan anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang. Mereka hidup sederhana di sebuah gubuk kecil. Sang ibu bekerja keras untuk membesarkan Malin seorang diri sejak suaminya meninggal.

Malin tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan kuat. Suatu hari, Malin memutuskan untuk merantau ke negeri seberang untuk mengubah nasib. Ia ingin menjadi orang kaya dan sukses.

"Bu, izinkan Malin pergi merantau. Malin ingin mengubah nasib kita. Malin berjanji akan kembali dan membawa harta,"
kata Malin kepada ibunya.

Dengan berat hati, sang ibu mengizinkan Malin pergi.

Dengan berat hati, sang ibu mengizinkan Malin pergi.

"Pergilah, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu. Jangan lupa untuk kembali,"
kata ibunya sambil menangis.

Malin pun berlayar dengan sebuah kapal dagang. Bertahun-tahun berlalu, dan tidak ada kabar dari Malin. Sang ibu selalu menunggu di pantai setiap hari, berharap anaknya akan kembali.

Suatu hari, sebuah kapal besar dan mewah berlabuh di pantai desa tersebut. Kapal itu milik seorang saudagar kaya yang ternyata adalah Malin Kundang. Malin telah menikah dengan putri seorang saudagar dan menjadi kaya raya.

Mendengar kabar kedatangan Malin, sang ibu berlari ke pantai dengan gembira. Ia sangat merindukan anaknya.

"Malin, anakku! Ibu sangat merindukanmu!"
seru sang ibu sambil memeluk Malin.

Namun, Malin yang kini telah menjadi orang kaya merasa malu memiliki ibu yang miskin dan berpakaian compang-camping. Ia tidak mau mengakui ibunya di depan istri dan pengawalnya.

"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu! Jangan mengaku-ngaku sebagai ibuku!"
bentak Malin sambil mendorong ibunya hingga terjatuh.

bentak Malin sambil mendorong ibunya hingga terjatuh

Sang ibu sangat terluka dengan perlakuan Malin. Dengan hati yang hancur, ia berdoa kepada Tuhan:

"Ya Tuhan, jika benar dia anakku Malin Kundang, aku mohon tunjukkanlah kuasa-Mu."

Tiba-tiba langit menjadi gelap dan badai besar datang. Petir menyambar kapal Malin. Malin yang ketakutan akhirnya menyadari kesalahannya dan memohon ampun kepada ibunya, tetapi sudah terlambat. Kapal Malin hancur, dan Malin beserta kapalnya berubah menjadi batu.

Tiba-tiba langit menjadi gelap dan badai besar datang. Petir menyambar kapal Malin.

Hingga kini, batu yang konon adalah Malin Kundang masih dapat dilihat di pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat.


Pesan Moral

Cerita Malin Kundang mengajarkan kita untuk:

  • Selalu menghormati dan menyayangi orang tua
  • Tidak boleh sombong dan melupakan asal-usul kita
  • Bersyukur atas apa yang kita miliki