Roro Jonggrang

Roro Jonggrang

9 menit
7+ Tahun
Audio tersedia
Audio Cerita: Roro Jonggrang
0:000:00

Pada zaman dahulu kala, terdapat dua kerajaan yang saling bertetangga di tanah Jawa. Kerajaan pertama adalah Kerajaan Prambanan yang dipimpin oleh Raja Boko, seorang raja yang terkenal dengan kekejaman dan kesaktiannya. Meskipun terkenal kejam, Raja Boko memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama Roro Jonggrang. Kecantikan Roro Jonggrang tersohor hingga ke berbagai penjuru negeri.

Kerajaan kedua adalah Kerajaan Pengging yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana. Pangeran dari Kerajaan Pengging, Bandung Bondowoso, terkenal dengan kesaktiannya dan memiliki pasukan jin yang selalu siap membantunya. Ia adalah seorang ksatria yang gagah berani, tetapi juga dikenal karena sifatnya yang mudah tersinggung dan pemarah.

Suatu hari, terjadi perselisihan antara kedua kerajaan tersebut. Raja Boko yang ambisius ingin memperluas wilayah kekuasaannya dengan menyerang Kerajaan Pengging. Mendengar kabar ini, Pangeran Bandung Bondowoso memimpin pasukannya untuk melawan pasukan Raja Boko.

Pertempuran sengit pun tak terelakkan. Kedua pasukan bertempur dengan gagah berani. Dalam pertempuran tersebut, Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan Raja Boko dalam duel satu lawan satu. Raja Boko tewas di tangan Bandung Bondowoso.

Raja Boko tewas di tangan Bandung Bondowoso.

Setelah kemenangan tersebut, Bandung Bondowoso beserta pasukannya memasuki istana Prambanan. Di situlah, untuk pertama kalinya Bandung Bondowoso melihat kecantikan Putri Roro Jonggrang. Seketika itu juga, ia jatuh cinta kepada putri tersebut.

"Wahai Putri Roro Jonggrang, izinkan aku meminangmu untuk menjadi permaisuriku,"
kata Bandung Bondowoso dengan penuh harap.

Roro Jonggrang yang masih berduka atas kematian ayahnya merasa terkejut dengan lamaran tersebut. Ia tidak mungkin menerima lamaran dari orang yang telah membunuh ayahnya. Namun, ia juga takut menolak langsung karena Bandung Bondowoso terkenal mudah marah dan memiliki kesaktian tinggi.

Setelah berpikir sejenak, Roro Jonggrang mendapatkan sebuah ide. Ia akan memberikan syarat yang mustahil dipenuhi oleh Bandung Bondowoso.

"Hamba bersedia menjadi permaisuri Tuan, tetapi dengan dua syarat,"
ucap Roro Jonggrang dengan tenang.

Katakanlah syaratmu, Putri. Aku akan memenuhinya demi mendapatkan hatimu

"Katakanlah syaratmu, Putri. Aku akan memenuhinya demi mendapatkan hatimu,"
jawab Bandung Bondowoso dengan yakin.

"Pertama, Tuan harus membuatkan hamba sebuah sumur yang sangat dalam.
Kedua, Tuan harus membangun seribu candi untuk hamba.
Kedua syarat tersebut harus diselesaikan dalam waktu semalam sebelum matahari terbit,"
jelas Roro Jonggrang.

Bandung Bondowoso terdiam sejenak, lalu tersenyum percaya diri. Dengan kesaktian dan bantuan pasukan jinnya, ia yakin dapat memenuhi syarat tersebut.

"Baiklah, Putri. Aku terima syaratmu. Malam ini juga akan aku penuhi keinginanmu,"
ujar Bandung Bondowoso.

Malam itu, Bandung Bondowoso mulai bekerja. Ia memanggil pasukan jinnya dan memerintahkan mereka untuk membuat sumur dan membangun candi. Para jin bekerja dengan sangat cepat. Dalam hitungan jam, sumur yang dalam telah selesai dibuat.

Selanjutnya, mereka mulai membangun candi satu per satu. Pekerjaan berjalan dengan lancar. Candi demi candi bermunculan dengan cepat. Melihat hal ini, Roro Jonggrang mulai merasa khawatir. Ia tidak menyangka Bandung Bondowoso akan mampu memenuhi syaratnya.

Ketika malam semakin larut, hampir 999 candi telah selesai dibangun. Roro Jonggrang panik. Ia segera memanggil para dayang dan penduduk desa.

"Sebentar lagi fajar akan menyingsing, tetapi candi-candi itu hampir selesai. Kita harus melakukan sesuatu.
Bawalah lesung dan alu, lalu tumbuk padi dengan keras.
Juga, bakarlah jerami di sebelah timur istana.
Kita harus membuat para jin mengira bahwa hari sudah pagi,"
perintah Roro Jonggrang.

Mereka menumbuk padi dengan keras dan membakar jerami sehingga langit di timur terlihat memerah seperti fajar menyingsing

Para dayang dan penduduk desa pun melaksanakan perintah tersebut. Mereka menumbuk padi dengan keras dan membakar jerami sehingga langit di timur terlihat memerah seperti fajar menyingsing. Mendengar suara gaduh dan melihat cahaya kemerahan di timur, ayam-ayam jantan pun berkokok, mengira hari sudah pagi.

Para jin yang takut dengan cahaya matahari segera melarikan diri dan meninggalkan pekerjaan mereka. Bandung Bondowoso yang menyadari hal ini menjadi sangat marah. Ia tahu bahwa Roro Jonggrang telah menipunya.

"Roro Jonggrang! Kau telah menipuku! Aku hampir menyelesaikan seribu candi, tetapi kau dengan licik membuat para jinku ketakutan dan melarikan diri,"
teriak Bandung Bondowoso dengan murka.

"Maafkan hamba, Tuan. Tetapi syarat yang Tuan setujui adalah membangun seribu candi sebelum matahari terbit.
Kini matahari telah terbit, dan candi yang Tuan bangun baru 999 buah,"
jawab Roro Jonggrang dengan tenang.

Bandung Bondowoso yang dikuasai amarah mengangkat tangannya dan mengucapkan kutukan:

"Baiklah, Roro Jonggrang. Jika kau tidak ingin menjadi permaisuriku, maka kau akan menjadi pelengkap dari 999 candi yang telah kubangun.
Kau akan menjadi candi yang keseribu!"

Seketika itu juga, tubuh Roro Jonggrang berubah menjadi patung batu. Ia menjadi patung yang sangat cantik dan ditempatkan di dalam candi yang keseribu. Hingga kini, kompleks Candi Prambanan masih berdiri dengan megah, dan patung Roro Jonggrang masih dapat dilihat di dalamnya.

Cerita ini menjadi legenda yang sangat terkenal di tanah Jawa. Kompleks Candi Prambanan menjadi saksi bisu dari kisah cinta, pengorbanan, dan keberanian Putri Roro Jonggrang.


Pesan Moral

Cerita Roro Jonggrang mengajarkan kita untuk:

  • Selalu jujur dan menepati janji
  • Tidak menggunakan tipu muslihat untuk mencapai tujuan
  • Menerima konsekuensi dari perbuatan kita
  • Mengendalikan emosi, terutama amarah, karena dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan
  • Menghargai keberanian dan pengorbanan demi membela apa yang kita yakini benar