Keong Emas

Keong Emas

8 menit
7+ Tahun
Audio tersedia
Audio Cerita: Keong Emas
0:000:00

Pada zaman dahulu kala, di Pulau Jawa terdapat dua kerajaan besar yang saling berdampingan. Kerajaan pertama bernama Daha yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana dan kerajaan kedua bernama Kediri yang dipimpin oleh Raja Kertamarta. Raja Kertamarta memiliki seorang putri cantik bernama Dewi Galuh dan seorang keponakan bernama Candra Kirana yang kecantikannya tiada tanding.

Candra Kirana telah bertunangan dengan Raden Inu Kertapati, seorang pangeran tampan dari Kerajaan Jenggala. Rencana pernikahan mereka membuat Dewi Galuh merasa iri dan dengki, karena dia juga mencintai Raden Inu Kertapati. Dewi Galuh yang licik kemudian mengatur rencana jahat untuk menyingkirkan Candra Kirana.

Suatu malam, Dewi Galuh diam-diam mengundang seorang nenek sihir ke istana.

"Wahai nenek sihir, aku ingin kau mengutuk Candra Kirana agar dia menghilang dari istana ini,"
kata Dewi Galuh.

Dewi Galuh diam-diam mengundang seorang nenek sihir ke istana.

"Hamba akan melakukannya, Tuan Putri. Tetapi kutukan seperti itu memiliki harga yang harus dibayar,"
jawab nenek sihir.

"Aku tidak peduli! Ambil apapun yang kau mau, asalkan Candra Kirana lenyap dari hadapanku!"
seru Dewi Galuh dengan penuh amarah.

Nenek sihir itu pun merapalkan mantra dan menyiapkan ramuan khusus. Keesokan harinya, ketika Candra Kirana sedang berjalan-jalan di taman istana, tiba-tiba angin kencang bertiup dan menerbangkan bubuk sihir ke arahnya. Seketika itu juga, Candra Kirana berubah menjadi seekor keong berwarna emas dan tersapu ombak ke tengah laut.

Keong emas yang sebenarnya adalah Candra Kirana terbawa arus laut hingga ke pantai sebuah desa nelayan. Di pantai itu, seorang janda tua yang bernama Mbok Rondo Dadapan sedang mencari ikan. Dia terkejut melihat seekor keong berwarna emas yang berkilauan.

"Astaga! Keong apa ini? Warnanya emas dan berkilauan. Belum pernah aku melihat keong seperti ini,"
gumam Mbok Rondo sambil mengambil keong tersebut dan membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Mbok Rondo menaruh keong emas itu di dalam ember berisi air. Keesokan harinya, ketika Mbok Rondo pergi mencari ikan, terjadi keajaiban. Keong emas itu berubah menjadi seorang gadis cantik, yaitu Candra Kirana. Karena kutukan yang diterimanya, Candra Kirana hanya bisa berubah menjadi manusia ketika tidak ada orang yang melihatnya.

Sesampainya di rumah, Mbok Rondo menaruh keong emas itu di dalam ember berisi air.

Candra Kirana merasa berhutang budi kepada Mbok Rondo dan memutuskan untuk membantu membersihkan rumah dan menyiapkan makanan. Dia memasak nasi dan lauk yang lezat, lalu kembali berubah menjadi keong emas sebelum Mbok Rondo pulang.

Ketika Mbok Rondo pulang, dia sangat terkejut melihat rumahnya bersih dan makanan lezat tersedia di meja.

"Siapa yang telah membersihkan rumahku dan memasak makanan selezat ini?"
tanya Mbok Rondo heran.

Kejadian itu terus berulang setiap hari. Mbok Rondo yang penasaran akhirnya memutuskan untuk pura-pura pergi dan sembunyi di dekat rumahnya. Dari tempat persembunyiannya, Mbok Rondo melihat keong emas berubah menjadi seorang gadis cantik yang membersihkan rumah dan memasak.

Mbok Rondo segera masuk ke rumah.

"Siapa kau sebenarnya, Nak?"
tanya Mbok Rondo.

Candra Kirana terkejut dan mencoba berubah kembali menjadi keong, tetapi tidak bisa karena Mbok Rondo telah melihatnya. Dengan terpaksa, Candra Kirana menceritakan kisah hidupnya dan kutukan yang menimpanya.

"Namaku Candra Kirana, putri dari Kerajaan Daha. Aku dikutuk oleh nenek sihir suruhan Dewi Galuh, sepupuku yang iri padaku,"
jelasnya dengan sedih.

Mbok Rondo yang baik hati merasa iba.

"Jangan khawatir, Nak. Kau bisa tinggal bersamaku sampai kutukan itu hilang. Anggap saja aku sebagai ibumu,"
kata Mbok Rondo sambil memeluk Candra Kirana.

Sementara itu, di Kerajaan Jenggala, Raden Inu Kertapati sangat sedih mendengar kabar hilangnya Candra Kirana. Dia memutuskan untuk pergi mencari tunangannya dengan menyamar sebagai seorang pengembara biasa.

Dalam pengembaraannya, Raden Inu Kertapati yang menyamar dengan nama Panji Asmara Bangun akhirnya tiba di desa tempat Mbok Rondo dan Candra Kirana tinggal. Desa itu sedang mengadakan pesta panen dan lomba memasak. Masakan Candra Kirana yang lezat menjadi juara dan berita tentang gadis cantik yang tinggal bersama Mbok Rondo pun tersebar luas.

Masakan Candra Kirana yang lezat menjadi juara dan berita tentang gadis cantik yang tinggal bersama Mbok Rondo pun tersebar luas.

Panji Asmara Bangun penasaran dan datang ke rumah Mbok Rondo. Begitu melihat Candra Kirana, Panji langsung mengenalinya sebagai tunangannya yang hilang. Demikian pula Candra Kirana, dia mengenali Panji sebagai Raden Inu Kertapati, tunangannya.

"Candra Kirana! Akhirnya aku menemukanmu!"
seru Panji sambil memeluk Candra Kirana.

"Raden Inu, bagaimana kau bisa menemukanku?"
tanya Candra Kirana dengan air mata bahagia.

Panji menceritakan perjalanannya mencari Candra Kirana. Karena kekuatan cinta mereka yang tulus, kutukan nenek sihir pun lenyap seketika. Candra Kirana tidak lagi berubah menjadi keong emas.

Panji kemudian mengajak Candra Kirana dan Mbok Rondo kembali ke istana. Setibanya di istana, kebenaran terungkap. Dewi Galuh dijatuhi hukuman, sementara Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati menikah dan hidup bahagia.

Mbok Rondo yang telah menolong Candra Kirana diangkat menjadi penasehat istana dan hidup berkecukupan. Kisah Keong Emas menjadi cerita yang terkenal di seluruh negeri, mengajarkan bahwa kebaikan dan cinta sejati akan selalu menang melawan kejahatan dan kedengkian.


Pesan Moral

Cerita Keong Emas mengajarkan kita untuk:

  1. Tidak menyimpan rasa iri dan dengki terhadap orang lain
  2. Selalu berbuat baik meskipun dalam kesulitan
  3. Ketulusan dan cinta sejati dapat mengatasi segala rintangan
  4. Kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan
  5. Kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup