
Ande Ande Lumut
Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang indah, hiduplah seorang pemuda tampan bernama Ande Ande Lumut. Dia tinggal bersama ibunya yang bernama Mbok Randha Dadapan di sebuah rumah kecil yang nyaman.
Ande Ande Lumut sangat baik hati dan selalu membantu orang-orang di desanya. Dia suka berkebun dan menanam bunga-bunga cantik di halaman rumahnya. Bunga-bunga itu berwarna-warni dan membuat semua orang yang lewat tersenyum.
"Ande, bungamu sangat indah!" puji tetangganya setiap hari.
"Terima kasih. Silakan ambil beberapa jika kamu suka," jawab Ande Ande Lumut dengan ramah.
Tidak jauh dari desa Ande Ande Lumut, ada sebuah kerajaan kecil. Di kerajaan itu tinggal empat putri cantik bernama Klenting Kuning, Klenting Hijau, Klenting Merah, dan Klenting Biru. Mereka adalah putri-putri yang tinggal bersama ibu tiri mereka.
Dari keempat putri itu, Klenting Kuning adalah yang paling baik hati. Dia selalu membantu orang lain dan bersikap sopan. Sementara ketiga saudaranya sering bersikap sombong dan malas.
Suatu hari, berita tentang ketampanan dan kebaikan Ande Ande Lumut tersebar ke seluruh negeri, termasuk ke kerajaan tempat keempat putri itu tinggal.
"Aku ingin bertemu dengan Ande Ande Lumut!" kata Klenting Hijau.
"Aku juga!" sahut Klenting Merah dan Klenting Biru bersamaan.
Klenting Kuning hanya tersenyum. Dalam hatinya, dia juga ingin bertemu dengan pemuda yang terkenal baik hati itu.

Keempat putri itu pun memutuskan untuk pergi mengunjungi desa Ande Ande Lumut. Mereka bersiap-siap dengan mengenakan pakaian terbaik mereka.
"Aku akan memakai gaun hijauku yang paling bagus," kata Klenting Hijau sambil menyisir rambutnya.
"Aku akan memakai perhiasan merahku yang berkilau," tambah Klenting Merah.
"Dan aku akan membawa selendang biruku yang indah," timpal Klenting Biru.
Klenting Kuning memilih pakaian sederhana berwarna kuning. Dia juga membawa beberapa kue buatannya sendiri sebagai oleh-oleh.
Keesokan harinya, mereka berangkat menuju desa Ande Ande Lumut. Di tengah perjalanan, mereka harus menyeberangi sungai kecil. Air sungai itu jernih dan tidak terlalu dalam.
"Bagaimana cara kita menyeberang?" tanya Klenting Hijau dengan bingung.
Tiba-tiba, muncul seekor kepiting kecil bernama Yuyu Kangkang.
"Selamat pagi, putri-putri cantik. Mau menyeberang sungai?" tanya Yuyu Kangkang.
"Ya, kami ingin ke desa seberang," jawab Klenting Merah.
"Aku bisa membantu kalian menyeberang, tapi ada syaratnya," kata Yuyu Kangkang.
"Apa syaratnya?" tanya Klenting Biru.
"Kalian harus bersikap sopan dan mengucapkan terima kasih setelah aku membantu kalian," jawab Yuyu Kangkang.
"Baiklah," kata ketiga putri itu dengan enggan.
Satu per satu, Klenting Hijau, Klenting Merah, dan Klenting Biru menyeberang dengan bantuan Yuyu Kangkang. Namun, setelah sampai di seberang, mereka langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih.
Akhirnya, giliran Klenting Kuning untuk menyeberang.

"Selamat pagi, Yuyu Kangkang. Bolehkah aku meminta bantuanmu untuk menyeberang?" tanya Klenting Kuning dengan sopan.
"Tentu saja, Putri," jawab Yuyu Kangkang senang.
Setelah sampai di seberang, Klenting Kuning membungkuk dan tersenyum.
"Terima kasih banyak, Yuyu Kangkang. Kamu sangat baik dan membantu," ucapnya tulus.
Yuyu Kangkang tersenyum lebar.
"Senang bisa membantumu, Putri Klenting Kuning. Kamu sangat berbeda dengan saudara-saudaramu."
Klenting Kuning pun melanjutkan perjalanannya. Dia berjalan dengan tenang, menikmati pemandangan indah di sepanjang jalan. Sementara itu, ketiga saudaranya sudah berlari-lari ke depan, ingin cepat sampai ke rumah Ande Ande Lumut.
Ketika mereka tiba di desa, mereka bertanya kepada penduduk setempat di mana rumah Ande Ande Lumut berada.

"Rumah Ande Ande Lumut ada di ujung jalan itu," tunjuk seorang penduduk. "Rumah dengan banyak bunga di halamannya."
Ketiga putri itu segera berlari menuju rumah Ande Ande Lumut. Ketika sampai, mereka mengetuk pintu dengan tidak sabar.
Mbok Randha Dadapan membuka pintu dan menyambut mereka.
"Selamat datang, putri-putri cantik. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbok Randha dengan ramah.
"Kami ingin bertemu dengan Ande Ande Lumut!" jawab ketiga putri itu bersamaan.
"Oh, Ande sedang di kebun belakang. Mari saya panggilkan," kata Mbok Randha.
Ketika Ande Ande Lumut keluar, ketiga putri itu terpesona melihat ketampanannya. Mereka berebut untuk memperkenalkan diri.
"Aku Klenting Hijau!"
"Aku Klenting Merah!"
"Aku Klenting Biru!"
Ande Ande Lumut tersenyum sopan, tetapi dia tidak tertarik dengan ketiga putri yang berisik dan tidak sopan itu.
Tidak lama kemudian, Klenting Kuning tiba. Dia mengetuk pintu dengan lembut.
"Permisi," sapanya sopan.
Mbok Randha membuka pintu dan tersenyum melihat Klenting Kuning.
"Selamat datang, anak manis. Siapa namamu?" tanya Mbok Randha.
"Saya Klenting Kuning. Maaf kalau saya terlambat. Saya membawakan kue untuk Ibu dan Ande Ande Lumut," jawab Klenting Kuning sambil menyerahkan bungkusan kue.
"Wah, kamu sangat baik dan sopan. Mari, masuk," ajak Mbok Randha.
Ketika Klenting Kuning masuk, Ande Ande Lumut langsung tersenyum. Dia melihat ketulusan dan kebaikan hati di wajah Klenting Kuning.
"Selamat datang, Klenting Kuning," sapa Ande Ande Lumut.
Mereka pun berbincang-bincang dengan akrab. Klenting Kuning menceritakan tentang perjalanannya dan bagaimana dia berterima kasih pada Yuyu Kangkang yang membantunya menyeberang sungai.
Ande Ande Lumut sangat terkesan dengan sikap Klenting Kuning yang sopan dan tulus. Dia mengajak Klenting Kuning berkeliling kebun bunganya.
"Bungamu sangat indah," puji Klenting Kuning.
"Terima kasih. Kamu juga boleh memilih bunga yang kamu suka," tawar Ande Ande Lumut.
Sementara itu, ketiga saudara Klenting Kuning menjadi cemburu melihat Ande Ande Lumut lebih memperhatikan Klenting Kuning.
"Kenapa dia lebih suka Klenting Kuning daripada kita?" bisik Klenting Hijau kesal.
"Mungkin karena Klenting Kuning lebih sopan dan baik hati," jawab Mbok Randha yang mendengar bisikan itu.
Ketiga putri itu terdiam, mulai menyadari kesalahan mereka.
Akhirnya, Ande Ande Lumut memutuskan untuk berteman baik dengan Klenting Kuning. Mereka sering bermain bersama dan Klenting Kuning sering membantu Ande Ande Lumut merawat kebun bunganya.
Ketiga saudara Klenting Kuning pun belajar dari kesalahan mereka. Mereka mulai bersikap lebih sopan dan baik kepada orang lain. Ande Ande Lumut dan Mbok Randha juga menerima mereka dengan tangan terbuka.
Sejak saat itu, mereka semua hidup bahagia dan saling membantu. Kebun bunga Ande Ande Lumut menjadi semakin indah karena dirawat dengan penuh kasih sayang oleh mereka semua.
Pesan Moral
Dongeng Ande Ande Lumut mengajarkan beberapa nilai penting untuk anak-anak:
- Bersikap sopan dan berterima kasih ketika orang lain membantu kita.
- Ketulusan dan kebaikan hati lebih berharga daripada penampilan luar yang mewah.
- Menghargai semua makhluk, baik itu manusia maupun hewan kecil seperti Yuyu Kangkang.
- Tidak baik bersikap sombong dan berebut sesuatu.
- Kita selalu bisa belajar dari kesalahan dan memperbaiki sikap kita.
Cerita Lainnya

Malin Kundang
Kisah tentang seorang pemuda yang sukses di perantauan namun durhaka kepada ibunya. Akibatnya, ia dikutuk menjadi batu yang masih dapat dilihat di pantai Air Manis, Padang.

Roro Jonggrang
Kisah putri cantik yang menolak lamaran Bandung Bondowoso dengan siasat cerdik, namun akhirnya dikutuk menjadi patung di kompleks Candi Prambanan yang masih ada hingga kini.

Keong Emas
Kisah tentang Putri Candra Kirana yang dikutuk menjadi keong emas oleh Dewi Galuh yang iri, kemudian diselamatkan oleh Mbok Rondo dan akhirnya ditemukan kembali oleh kekasihnya.

Sangkuriang
Kisah cinta terlarang antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang berakhir dengan terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, salah satu gunung terkenal di Jawa Barat yang bentuknya seperti perahu terbalik.