
Ciung Wanara
Pada zaman dahulu kala, di Kerajaan Galuh yang indah, hiduplah seorang raja yang bijaksana bernama Raja Barma Wijaya. Raja sangat disayangi oleh rakyatnya karena keadilan dan kebaikan hatinya.
Raja memiliki seorang permaisuri yang cantik. Mereka hidup bahagia dan damai. Tidak lama kemudian, sang permaisuri mengandung dan semua orang di kerajaan sangat gembira mendengar kabar baik ini.
"Kita akan segera memiliki seorang pangeran kecil," kata Raja dengan bahagia.
Patih kerajaan bernama Aki Balangantrang juga ikut bahagia. Dia adalah orang kepercayaan Raja yang selalu membantu menjalankan kerajaan dengan baik.
Namun, di dalam istana juga ada seorang dayang bernama Dewi Pangrenyep yang iri kepada sang permaisuri. Dia juga sedang mengandung dan ingin anaknya menjadi raja kelak.
"Aku harus membuat anakku menjadi raja," pikir Dewi Pangrenyep.
Waktu pun berlalu, dan tibalah saat permaisuri melahirkan. Dia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan sehat. Pada hari yang sama, Dewi Pangrenyep juga melahirkan seorang bayi laki-laki.

Di malam hari, ketika semua orang tertidur, Dewi Pangrenyep mengendap-endap ke kamar permaisuri. Dia menukar bayi permaisuri dengan bayinya sendiri. Bayi permaisuri yang asli diberi nama Ciung Wanara, sedangkan bayi Dewi Pangrenyep diberi nama Hariang Banga.
Raja dan permaisuri tidak mengetahui pertukaran ini. Mereka merawat dan menyayangi bayi yang mereka kira adalah anak mereka sendiri, yaitu Hariang Banga. Sementara itu, Dewi Pangrenyep membawa Ciung Wanara, bayi asli raja, dan meletakkannya di dalam keranjang kecil.
"Maafkan aku, anak kecil," bisik Dewi Pangrenyep, "tapi anakku harus menjadi raja."
Dia membawa keranjang berisi Ciung Wanara ke tepi sungai dan menghanyutkannya. Keranjang itu terapung di atas air dan dibawa arus sungai.
Tidak jauh dari sungai, tinggallah seorang petani tua bernama Ki Lengser. Pagi itu, Ki Lengser sedang mencari ikan di sungai ketika dia melihat keranjang terapung.
"Apa itu?" tanya Ki Lengser penasaran.
Dia mengambil galah panjang dan menarik keranjang itu ke tepi. Betapa terkejutnya Ki Lengser ketika membuka keranjang dan menemukan seorang bayi laki-laki yang tampan di dalamnya. Bayi itu tersenyum kepadanya.

"Ya ampun! Seorang bayi!" seru Ki Lengser. "Sepertinya kamu dikirim oleh dewa untuk menemani hidupku yang sepi."
Ki Lengser membawa bayi itu pulang ke rumahnya. Dia merawat dan membesarkan Ciung Wanara dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri. Dia memberi nama anak itu Ciung Wanara karena suara tangisnya yang merdu seperti burung ciung.
Tahun demi tahun berlalu. Ciung Wanara tumbuh menjadi anak yang cerdas, kuat, dan baik hati. Ki Lengser mengajarinya cara bertani, memancing, dan hidup sederhana namun bahagia.
"Ayah, bolehkah aku bermain di hutan?" tanya Ciung Wanara suatu hari.
"Boleh, anakku. Tapi berhati-hatilah dan pulanglah sebelum gelap," jawab Ki Lengser.
Ciung Wanara suka menjelajahi hutan dan berteman dengan binatang-binatang. Dia juga sering membantu penduduk desa yang kesusahan. Semua orang menyayanginya karena kebaikan hatinya.
Sementara itu, di istana, Hariang Banga tumbuh menjadi anak yang manja dan sombong. Dia tidak disukai oleh rakyat, tetapi Raja tetap menyayanginya, tidak tahu bahwa itu bukan anak kandungnya.
Suatu hari, Ciung Wanara bertemu dengan seorang pemburu dari istana yang sedang tersesat di hutan.
"Siapa namamu, anak muda?" tanya pemburu itu.
"Nama saya Ciung Wanara, saya tinggal di tepi sungai bersama ayah saya, Ki Lengser," jawab Ciung Wanara.
Pemburu itu terkejut melihat wajah Ciung Wanara yang sangat mirip dengan wajah Raja.
"Anak ini sangat mirip dengan Raja," pikir pemburu. "Aku harus memberitahu Patih Aki Balangantrang."
Setelah kembali ke istana, pemburu itu menceritakan pertemuannya dengan Ciung Wanara kepada Patih Aki Balangantrang. Patih yang bijaksana sudah lama mencurigai ada sesuatu yang tidak beres tentang kelahiran pangeran.
"Bawa aku bertemu dengan anak itu," perintah Patih.
Keesokan harinya, Patih Aki Balangantrang dan beberapa pengawal pergi ke rumah Ki Lengser. Ketika bertemu dengan Ciung Wanara, Patih langsung mengenali wajahnya yang sangat mirip dengan Raja.
"Ki Lengser, dapatkah kau ceritakan bagaimana kau menemukan anak ini?" tanya Patih.
Ki Lengser menceritakan bagaimana dia menemukan Ciung Wanara dalam keranjang yang terapung di sungai bertahun-tahun yang lalu. Patih Aki Balangantrang mengangguk-angguk mendengar cerita itu.
"Aku percaya anak ini adalah putra asli Raja dan permaisuri," kata Patih. "Dia telah ditukar saat lahir."
Ki Lengser dan Ciung Wanara terkejut mendengar hal ini. Ciung Wanara tidak pernah menyangka bahwa dia adalah seorang pangeran.

"Tapi Ki Lengser adalah ayahku," kata Ciung Wanara. "Dia yang membesarkan dan menyayangiku."
Patih tersenyum. "Dan dia akan selalu menjadi ayahmu, Ciung Wanara. Tapi kau juga memiliki ayah dan ibu lain yang sangat merindukanmu meskipun mereka tidak tahu."
"Bolehkah ayah ikut bersamaku?" tanya Ciung Wanara.
"Tentu saja," jawab Patih. "Ki Lengser akan selalu menjadi bagian dari hidupmu."
Mereka pun pergi ke istana. Di istana, Patih Aki Balangantrang membawa Ciung Wanara dan Ki Lengser menghadap Raja dan permaisuri. Raja terkejut melihat anak muda yang sangat mirip dengannya.
"Siapa anak ini?" tanya Raja.
Patih Aki Balangantrang menceritakan semua yang dia ketahui. Raja dan permaisuri sangat terkejut dan sedih mendengar bahwa bayi mereka telah ditukar saat lahir.
"Bagaimana kita bisa yakin?" tanya permaisuri dengan mata berkaca-kaca.
Patih Aki Balangantrang meminta Ciung Wanara membuka bajunya. Di punggung Ciung Wanara, ada tanda lahir berbentuk bintang, sama seperti tanda lahir yang dimiliki Raja.
Raja dan permaisuri menangis bahagia. Mereka memeluk Ciung Wanara, anak yang telah lama hilang dari mereka.
"Anakku, akhirnya kau kembali," kata Raja.
Ciung Wanara merasa bahagia bertemu dengan orang tua kandungnya, tapi dia juga tidak melupakan Ki Lengser yang telah membesarkannya.
"Ini adalah Ki Lengser, ayah yang membesarkan saya dengan penuh kasih sayang," kata Ciung Wanara.
Raja berterima kasih kepada Ki Lengser karena telah merawat anaknya dengan baik. Raja mengundang Ki Lengser untuk tinggal di istana bersama mereka.
"Kau telah menjaga hartaku yang paling berharga," kata Raja. "Kau akan selalu menjadi bagian dari keluarga kami."
Dewi Pangrenyep, yang mengetahui kebenaran telah terungkap, mengaku dan meminta maaf atas perbuatannya. Raja yang bijaksana memaafkannya, tapi memintanya untuk pergi dari istana.
Hariang Banga awalnya marah dan sedih mengetahui bahwa dia bukan anak Raja yang sebenarnya. Tapi Ciung Wanara dengan kebaikan hatinya, menerima Hariang Banga sebagai saudaranya.
"Kita bisa menjadi saudara dan berteman," kata Ciung Wanara.
Hariang Banga terharu dengan kebaikan hati Ciung Wanara. Dia meminta maaf atas sikapnya selama ini dan berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik.
Raja sangat senang melihat kebijaksanaan Ciung Wanara. Dia mengumumkan bahwa Ciung Wanara akan menjadi putra mahkota, pewaris tahta Kerajaan Galuh.
"Ciung Wanara akan menjadi raja yang bijaksana dan adil," kata Raja.
Rakyat Kerajaan Galuh menyambut kabar ini dengan suka cita. Mereka sangat senang memiliki pangeran yang baik hati seperti Ciung Wanara.
Sejak saat itu, Ciung Wanara hidup bahagia bersama keluarga kandungnya dan Ki Lengser di istana. Dia belajar banyak hal tentang cara menjadi raja yang baik dari ayahnya, dan terus membantu rakyat yang membutuhkan.
Ciung Wanara tumbuh menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, dicintai oleh seluruh rakyat Kerajaan Galuh. Cerita tentang pangeran yang dihanyutkan dan kembali ke istana menjadi legenda yang diceritakan turun-temurun hingga kini.
Pesan Moral
Cerita Ciung Wanara mengajarkan beberapa nilai penting untuk anak-anak:
- Kebaikan hati dan kasih sayang lebih penting daripada harta atau kedudukan.
- Orang tua adalah mereka yang merawat dan menyayangi kita, bukan hanya yang memiliki hubungan darah.
- Memaafkan kesalahan orang lain adalah tindakan yang mulia.
- Setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik, seperti Hariang Banga yang akhirnya menjadi baik.
- Kebenaran akan selalu terungkap pada waktunya.
Cerita Lainnya

Malin Kundang
Kisah tentang seorang pemuda yang sukses di perantauan namun durhaka kepada ibunya. Akibatnya, ia dikutuk menjadi batu yang masih dapat dilihat di pantai Air Manis, Padang.

Roro Jonggrang
Kisah putri cantik yang menolak lamaran Bandung Bondowoso dengan siasat cerdik, namun akhirnya dikutuk menjadi patung di kompleks Candi Prambanan yang masih ada hingga kini.

Keong Emas
Kisah tentang Putri Candra Kirana yang dikutuk menjadi keong emas oleh Dewi Galuh yang iri, kemudian diselamatkan oleh Mbok Rondo dan akhirnya ditemukan kembali oleh kekasihnya.

Sangkuriang
Kisah cinta terlarang antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang berakhir dengan terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, salah satu gunung terkenal di Jawa Barat yang bentuknya seperti perahu terbalik.