
Timun Mas
Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di kaki Gunung Merapi, hiduplah sepasang suami istri petani bernama Mbok Sirni dan Ki Slamet. Mereka hidup sederhana, bercocok tanam dan memelihara ternak. Meski hidup mereka tidak berkekurangan, ada satu hal yang selalu membuat mereka sedih: bertahun-tahun menikah, mereka belum dikaruniai seorang anak.
Setiap malam, Mbok Sirni selalu berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak.
"Ya Tuhan, berilah kami keturunan agar ada yang menemani dan meneruskan usaha kami,"
doanya dengan sungguh-sungguh.
Suatu hari, ketika Ki Slamet sedang mencangkul di ladang, tiba-tiba tanah bergoncang dan muncullah raksasa hijau yang besar dan menakutkan. Raksasa itu dikenal sebagai Buto Ijo, penguasa hutan di sekitar desa tersebut.
"Hei, manusia! Aku mendengar doa-doamu dan istrimu setiap malam,"
kata Buto Ijo dengan suara menggelegar.

Ki Slamet gemetar ketakutan.
"Ma-maafkan kami, Tu-tuan Raksasa. Ka-kami tidak bermaksud mengganggu,"
jawabnya terbata-bata.
"Aku bisa mengabulkan keinginanmu dan istrimu untuk mendapatkan seorang anak,"
ujar Buto Ijo.
Buto Ijo mengeluarkan sebuah biji mentimun berwarna emas.
"Tanam biji ini di ladangmu. Rawat dengan baik, dan dalam waktu singkat kalian akan mendapatkan seorang anak perempuan.
Tapi ingat, ketika anak itu berusia 17 tahun, kalian harus menyerahkannya kepadaku."
Ki Slamet sangat ragu, tapi karena sangat ingin memiliki anak, ia setuju.
"Baiklah, Tuan Raksasa. Aku setuju dengan syaratmu."
Buto Ijo pun memberikan biji tersebut.
"Ingat janjimu, manusia. Jika kau ingkar, aku akan memangsa seluruh penduduk desa ini."
Ki Slamet segera menanam biji itu bersama istrinya. Dalam waktu singkat, tanaman tumbuh subur dan berbuah. Di antara buah-buah mentimun itu, ada satu buah besar dan berwarna keemasan. Saat dibelah, ternyata di dalamnya ada bayi perempuan yang cantik.
"Suamiku, lihatlah! Tuhan telah mengabulkan doa kita!"

Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas, sesuai dengan asal-usulnya. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas, dan berbakti.
Namun, hari demi hari berlalu dan usia Timun Mas hampir 17 tahun. Mbok Sirni dan Ki Slamet mulai cemas akan janji mereka kepada Buto Ijo.
Suatu malam, Mbok Sirni bermimpi bertemu dengan seorang pertapa sakti di Gunung Merapi. Pertapa itu memberikan solusi.
Keesokan harinya, Ki Slamet naik ke gunung dan bertemu pertapa itu.
"Ambillah empat bungkusan ini: biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. Jika Buto Ijo mengejar Timun Mas, suruh ia menaburkannya satu per satu."
Pada hari ulang tahun Timun Mas ke-17, Buto Ijo muncul.
"Hei, manusia! Aku datang untuk menagih janjimu. Serahkan Timun Mas kepadaku!"

Mbok Sirni dan Ki Slamet memberikan empat bungkusan kepada Timun Mas dan memintanya lari.
Timun Mas pun berlari, dan ketika Buto Ijo mengejarnya, ia membuka:
- Biji mentimun — Menjadi ladang mentimun yang membuat Buto Ijo berhenti sejenak untuk makan.
- Jarum — Menjadi hutan bambu tajam yang melukai Buto Ijo.
- Garam — Menjadi lautan luas yang menghambat perjalanannya.
- Terasi — Menjadi lautan lumpur panas yang menenggelamkan Buto Ijo.
Akhirnya, Buto Ijo tenggelam dan mati. Timun Mas selamat, kembali ke rumah dan dipeluk oleh orang tuanya.
"Ibu! Ayah! Aku selamat!"
Keluarga itu hidup bahagia dan bersyukur kepada Tuhan atas keselamatan mereka.
Kisah keberanian Timun Mas dalam melawan Buto Ijo menjadi legenda yang dituturkan dari generasi ke generasi.
Pesan Moral
Cerita Timun Mas mengajarkan kita untuk:
- Tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan
- Menggunakan kecerdikan untuk mengatasi masalah
- Keberanian dalam menghadapi tantangan hidup
- Kasih sayang orang tua yang rela berkorban demi anaknya
- Pentingnya bersyukur atas apa yang kita miliki
Cerita Lainnya

Malin Kundang
Kisah tentang seorang pemuda yang sukses di perantauan namun durhaka kepada ibunya. Akibatnya, ia dikutuk menjadi batu yang masih dapat dilihat di pantai Air Manis, Padang.

Roro Jonggrang
Kisah putri cantik yang menolak lamaran Bandung Bondowoso dengan siasat cerdik, namun akhirnya dikutuk menjadi patung di kompleks Candi Prambanan yang masih ada hingga kini.

Keong Emas
Kisah tentang Putri Candra Kirana yang dikutuk menjadi keong emas oleh Dewi Galuh yang iri, kemudian diselamatkan oleh Mbok Rondo dan akhirnya ditemukan kembali oleh kekasihnya.

Sangkuriang
Kisah cinta terlarang antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang berakhir dengan terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, salah satu gunung terkenal di Jawa Barat yang bentuknya seperti perahu terbalik.