
Lutung Kasarung
Pada zaman dahulu kala, di tanah Pasundan, terdapat sebuah kerajaan bernama Pasir Batang yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana bernama Prabu Tapa Agung. Raja memiliki dua orang putri yang cantik jelita. Putri sulung bernama Purbararang dan putri bungsu bernama Purbasari.
Purbasari dikenal sebagai putri yang lemah lembut, baik hati, dan rendah hati. Kecantikannya tiada tanding, tidak hanya cantik fisiknya tetapi juga cantik hatinya. Sementara itu, Purbararang memiliki sifat yang berbeda. Ia cantik, tetapi juga angkuh, sombong, dan selalu iri kepada adiknya.
Suatu hari, Prabu Tapa Agung mengumumkan bahwa ia akan segera turun tahta dan akan mengangkat Purbasari sebagai penggantinya. Purbararang yang mendengar hal tersebut sangat marah dan cemburu. Ia merasa bahwa dirinyalah yang seharusnya menjadi ratu, bukan adiknya.
Didorong oleh rasa iri dan dengki, Purbararang berencana menyingkirkan Purbasari. Ia meminta bantuan tabib istana yang juga seorang penyihir untuk membuat ramuan jahat. Ramuan tersebut dioleskan ke tubuh Purbasari ketika ia sedang tidur.
Keesokan harinya, Purbasari bangun dengan kondisi tubuh penuh kudis dan penyakit kulit yang menjijikkan. Kulitnya yang dulunya putih mulus kini menjadi hitam dan penuh borok.
"Lihatlah adikku! Tubuhnya kini penuh penyakit. Ia pasti telah melakukan kesalahan besar hingga dikutuk oleh para dewa!"
— Purbararang
Prabu Tapa Agung sangat sedih melihat kondisi putri kesayangannya. Ia tidak tega, tetapi karena pengaruh fitnah Purbararang dan desakan para pejabat istana, akhirnya raja memutuskan untuk mengasingkan Purbasari ke hutan.
"Maafkan ayah, putriku. Ayah terpaksa mengasingkanmu ke hutan sampai penyakitmu sembuh. Jika suatu saat nanti kulitmu kembali putih bersih, kembalilah ke istana,"
— Prabu Tapa Agung

Purbasari menerima keputusan ayahnya dengan tabah. Ia diantar ke sebuah gubuk di tengah hutan. Di sana, ia hidup seorang diri, jauh dari kemewahan istana.
Sementara itu, di kahyangan, seorang pangeran dewa bernama Guruminda sedang dihukum oleh ayahnya, Sunan Ambu. Guruminda yang tampan diubah menjadi seekor lutung (kera hitam) dan diturunkan ke bumi untuk menebus kesalahannya.
"Engkau akan kembali menjadi dewa jika berhasil menolong orang yang benar-benar membutuhkan pertolonganmu dan menunjukkan cinta sejati,"
— Sunan Ambu
Lutung yang merupakan jelmaan Guruminda ini kemudian dinamakan Lutung Kasarung, yang berarti "kera yang tersesat". Ia berkelana di hutan hingga akhirnya bertemu dengan Purbasari.
Awalnya, Purbasari takut melihat lutung tersebut. Namun, Lutung Kasarung menunjukkan bahwa ia tidak bermaksud jahat. Ia bahkan membantu Purbasari mencari makanan dan membangun tempat tinggal yang lebih baik.
"Jangan takut, Tuan Putri. Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan membantumu selama di hutan ini,"
— Lutung Kasarung
Purbasari akhirnya menerima kehadiran Lutung Kasarung. Mereka menjadi teman yang akrab. Lutung Kasarung sangat setia menemani dan melindungi Purbasari.
Suatu hari, Lutung Kasarung membawa Purbasari ke sebuah telaga ajaib di tengah hutan.
"Tuan Putri, mandilah di telaga ini. Airnya memiliki khasiat penyembuhan,"
— Lutung Kasarung
Purbasari mengikuti saran Lutung Kasarung dan mandi di telaga tersebut. Ajaib! Setelah mandi, penyakit kulit Purbasari sembuh total. Kulitnya kembali putih bersih, bahkan lebih cantik dari sebelumnya. Rambutnya yang dulunya kusut kini menjadi hitam panjang dan berkilau.

"Terima kasih, Lutung Kasarung. Berkat bantuanmu, penyakitku telah sembuh,"
— Purbasari
Sementara itu, di istana, Purbararang telah mengangkat dirinya menjadi ratu dan menikah dengan Indrajaya, kekasih Purbasari sebelum diasingkan. Namun, pemerintahannya penuh dengan ketidakadilan dan rakyat menderita.
Berita tentang kesembuhan Purbasari sampai ke telinga Purbararang. Ia sangat terkejut dan marah. Purbararang kemudian mengutus pengawal untuk membawa Purbasari kembali ke istana.
"Aku dengar penyakitmu telah sembuh, adikku. Tetapi aku tidak percaya bahwa kau lebih cantik dariku,"
— Purbararang
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku lebih cantik darimu, Kakak,"
— Purbasari
"Baiklah, kita akan mengadakan sayembara untuk membuktikan siapa yang lebih cantik dan layak menjadi ratu,"
— Purbararang
Sayembara pun dimulai. Pertama, mereka membandingkan panjang rambut. Rambut Purbasari ternyata lebih panjang dan lebih indah dibandingkan rambut Purbararang.
Tidak puas dengan hasil tersebut, Purbararang mengajukan tantangan lain.
"Kita akan membandingkan siapa yang memiliki tunangan yang lebih tampan. Aku memiliki Indrajaya yang gagah dan tampan. Bagaimana denganmu?"
— Purbararang
Purbasari bingung karena ia tidak memiliki tunangan. Namun, Lutung Kasarung yang setia mengikutinya berbisik,
"Jangan khawatir, Tuan Putri. Tunjuklah aku sebagai tunanganmu."
Meski ragu, Purbasari mengikuti saran Lutung Kasarung.
"Ini tunanganku, Kakak,"
— Purbasari
Purbararang dan seluruh hadirin di istana tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Tunangan seorang putri adalah seekor lutung? Sungguh menggelikan!"
— Purbararang
Tiba-tiba, terjadi keajaiban. Lutung Kasarung bersinar terang dan berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Ia adalah Guruminda, yang telah berhasil menebus kesalahannya dengan menolong Purbasari dan menunjukkan cinta sejatinya.

Semua orang terkesima melihat ketampanan Guruminda. Bahkan Indrajaya pun kalah tampan dibandingkan dengannya. Purbararang sangat terkejut dan malu. Ia tidak menyangka akan kalah dalam sayembara yang ia buat sendiri.
Prabu Tapa Agung yang melihat semua kejadian tersebut akhirnya menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf kepada Purbasari dan mengembalikan haknya sebagai penerus tahta.
"Putriku, Purbasari. Ayah telah salah menilaimu. Mulai hari ini, engkaulah yang akan menjadi ratu Pasir Batang,"
— Prabu Tapa Agung
Purbasari yang baik hati memaafkan ayahnya dan juga kakaknya, Purbararang. Ia tidak dendam meski telah diperlakukan tidak adil. Purbasari kemudian dinobatkan menjadi ratu Pasir Batang dan menikah dengan Guruminda.
Di bawah pemerintahan Ratu Purbasari dan Raja Guruminda, Kerajaan Pasir Batang menjadi makmur dan rakyatnya hidup dalam kedamaian. Purbararang yang menyadari kesalahannya bertobat dan membantu adiknya dalam memerintah kerajaan.
Kisah Lutung Kasarung menjadi cerita yang terkenal di tanah Sunda, mengajarkan tentang kebaikan, kesabaran, dan cinta sejati yang mampu mengalahkan segala rintangan.
Pesan Moral
Cerita Lutung Kasarung mengajarkan kita untuk:
- Selalu bersabar dalam menghadapi cobaan
- Tidak memendam dendam meski diperlakukan tidak adil
- Kebaikan hati dan ketulusan akan mendapatkan balasan yang setimpal
- Tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya
- Kebenaran akan selalu menang pada akhirnya
Cerita Lainnya

Malin Kundang
Kisah tentang seorang pemuda yang sukses di perantauan namun durhaka kepada ibunya. Akibatnya, ia dikutuk menjadi batu yang masih dapat dilihat di pantai Air Manis, Padang.

Roro Jonggrang
Kisah putri cantik yang menolak lamaran Bandung Bondowoso dengan siasat cerdik, namun akhirnya dikutuk menjadi patung di kompleks Candi Prambanan yang masih ada hingga kini.

Keong Emas
Kisah tentang Putri Candra Kirana yang dikutuk menjadi keong emas oleh Dewi Galuh yang iri, kemudian diselamatkan oleh Mbok Rondo dan akhirnya ditemukan kembali oleh kekasihnya.

Sangkuriang
Kisah cinta terlarang antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang berakhir dengan terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, salah satu gunung terkenal di Jawa Barat yang bentuknya seperti perahu terbalik.